
INDONESIA — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) semakin bergerak keluar dari laboratorium teknologi dan masuk ke sektor yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Di dunia pendidikan, teknologi mulai digunakan untuk membuat proses belajar lebih interaktif. Sementara di sektor kesehatan, digitalisasi membuka peluang untuk menghubungkan fasilitas pelayanan, data kesehatan, perangkat pemantauan, dan teknologi pendukung pengambilan keputusan.
Perubahan ini penting bagi Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah geografis yang luas, teknologi berpotensi membantu memperluas akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Namun, pemanfaatannya juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait infrastruktur, kemampuan sumber daya manusia, privasi, dan keamanan data.
Salah satu contoh inovasi yang muncul pada 2026 datang dari MAN 3 Medan. Dua guru dari madrasah tersebut, Ahmad Suhendra Sembiring dan Andy Syahputra, mengembangkan inovasi pendidikan bernama “Kisah Kita”.
Inovasi tersebut berhasil melaju ke babak final PIDI 2026 setelah melewati proses seleksi yang diikuti sekitar 2.000 tim dari berbagai daerah. Dari ribuan peserta tersebut, sebanyak 80 tim berhasil mencapai tahap final.
“Kisah Kita” bukan sekadar aplikasi pembelajaran biasa. Sistem tersebut dikembangkan sebagai infrastruktur EdTech phygital yang menggabungkan interaksi fisik dengan teknologi digital.
Teknologi yang digunakan memadukan kartu berbasis Internet of Things (IoT) berbiaya rendah dengan kecerdasan generatif Google Gemini 3.1 Flash berbasis cloud.
Tujuannya adalah membuat siswa tidak hanya menjadi penerima informasi secara pasif. Melalui interaksi dengan perangkat fisik dan sistem digital, siswa didorong untuk lebih aktif mengeksplorasi materi pembelajaran.
Selama bertahun-tahun, salah satu tantangan dalam pembelajaran adalah membuat siswa tetap tertarik terhadap materi yang dianggap sulit atau membosankan.
Teknologi seperti AI dan IoT membuka pendekatan baru. Materi tidak harus selalu disampaikan melalui buku teks atau presentasi satu arah. Siswa dapat berinteraksi dengan konten, mengajukan pertanyaan, dan mengeksplorasi informasi dengan cara yang lebih dinamis.
Pada inovasi “Kisah Kita”, teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Pendekatan tersebut juga mendorong siswa menjadi lebih aktif dan kritis dalam memahami materi.
Model seperti ini memperlihatkan salah satu potensi terbesar AI dalam pendidikan: bukan menggantikan guru, tetapi menyediakan alat baru untuk membantu proses pembelajaran.
Guru tetap memiliki peran penting dalam menentukan tujuan pembelajaran, memberikan konteks, membimbing siswa, serta mengevaluasi pemahaman mereka. AI dapat membantu menyediakan materi tambahan, menjelaskan informasi dengan pendekatan berbeda, atau mendukung aktivitas belajar yang lebih interaktif.
Pemanfaatan AI dalam pendidikan dapat berkembang dalam berbagai bentuk.
Pertama, personalisasi pembelajaran. Setiap siswa memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Teknologi dapat membantu menyediakan materi tambahan atau penjelasan alternatif sesuai kebutuhan siswa.
Kedua, dukungan administrasi. Guru sering menghadapi pekerjaan administratif yang cukup besar. AI berpotensi membantu menyusun bahan awal, membuat rancangan soal, atau merangkum informasi. Namun, hasilnya tetap harus diperiksa oleh guru.
Ketiga, analisis pembelajaran. Sistem digital dapat membantu mengidentifikasi pola hasil belajar, misalnya materi mana yang paling banyak membuat siswa kesulitan.
Meski demikian, penggunaan AI di sekolah tidak boleh membuat proses pendidikan sepenuhnya bergantung pada mesin. Pendidikan bukan hanya soal menemukan jawaban yang benar, tetapi juga membangun kemampuan berpikir, karakter, kreativitas, dan interaksi sosial.
Di sektor kesehatan, pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu bagian penting dari transformasi layanan kesehatan Indonesia.
Kementerian Kesehatan menempatkan digitalisasi sebagai salah satu fondasi untuk memperkuat integrasi layanan kesehatan. Platform SATUSEHAT dikembangkan untuk mendukung interoperabilitas dan menghubungkan berbagai bagian ekosistem kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, laboratorium, dan apotek.
Integrasi tersebut menjadi penting karena Indonesia memiliki populasi yang besar dan tersebar di wilayah yang sangat luas.
Ketika informasi kesehatan masih tersebar di banyak sistem yang tidak saling terhubung, tenaga kesehatan dapat menghadapi kesulitan dalam memperoleh gambaran yang lengkap mengenai pelayanan pasien.
Digitalisasi membuka peluang untuk memperbaiki pertukaran informasi, meskipun implementasinya tetap membutuhkan standar, infrastruktur, dan perlindungan data yang kuat.
AI memiliki potensi besar untuk membantu sektor kesehatan, terutama dalam pengolahan informasi dan analisis data.
Salah satu bidang yang banyak dikembangkan secara global adalah analisis citra medis. Sistem AI dapat membantu menandai pola tertentu pada data seperti gambar radiologi untuk kemudian diperiksa oleh tenaga medis.
Namun, hasil dari sistem AI tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis final.
Kementerian Kesehatan pada 2026 juga menekankan bahwa pemanfaatan AI di bidang kesehatan harus disertai dengan tata kelola, regulasi, dan etika yang kuat.
Hal tersebut penting karena keputusan kesehatan berkaitan langsung dengan keselamatan manusia. Sistem AI dapat memberikan rekomendasi atau membantu proses analisis, tetapi tenaga kesehatan tetap memiliki tanggung jawab untuk melakukan penilaian profesional.
Dengan kata lain, masa depan AI kesehatan yang ideal bukanlah “dokter digantikan robot”, melainkan dokter dan tenaga kesehatan yang didukung oleh teknologi.
Selain AI, teknologi Internet of Things juga memiliki peran besar dalam perkembangan kesehatan digital.
IoT memungkinkan perangkat mengumpulkan dan mengirimkan data melalui jaringan. Dalam konteks kesehatan, konsep ini dapat diterapkan pada berbagai perangkat pemantauan.
Contohnya meliputi:
Potensi utamanya adalah membantu proses pemantauan dan pencatatan menjadi lebih terstruktur. Data yang dikumpulkan juga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi oleh tenaga kesehatan.
Namun, perangkat konsumen tidak boleh dianggap mampu menggantikan pemeriksaan medis profesional. Akurasi alat, kualitas data, dan konteks kondisi pasien tetap harus diperhatikan.
| Sektor | Peran AI | Peran IoT |
|---|---|---|
| Pendidikan | Mendukung pembelajaran interaktif, penyusunan materi, dan analisis proses belajar | Menghubungkan perangkat pembelajaran fisik dengan sistem digital |
| Kesehatan | Mendukung analisis data dan pengambilan keputusan klinis | Menghubungkan perangkat pemantauan dan pengumpulan data |
| Layanan publik | Membantu pengolahan dan analisis informasi | Mengumpulkan data dari perangkat dan lingkungan |
Manfaat AI dan digitalisasi tidak berhenti di ruang kelas maupun fasilitas kesehatan.
Ketika data dikumpulkan dan dikelola dengan baik, teknologi dapat membantu organisasi memahami pola yang sulit terlihat melalui pemeriksaan manual.
Dalam pendidikan, data dapat membantu mengidentifikasi materi yang membutuhkan perhatian lebih.
Dalam kesehatan, sistem digital dapat membantu memperbaiki koordinasi dan pertukaran informasi antarbagian dalam ekosistem pelayanan.
Namun, kemampuan AI menghasilkan ringkasan atau analisis tidak berarti keputusan manusia menjadi tidak diperlukan.
Data dapat membantu pengambilan keputusan, tetapi manusia tetap harus mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta dampak kebijakan terhadap masyarakat.
AI berbasis cloud dan perangkat IoT membutuhkan infrastruktur yang memadai.
Tantangan Indonesia adalah memastikan transformasi digital tidak hanya terjadi di kota besar. Sekolah dan fasilitas kesehatan di daerah dengan keterbatasan konektivitas juga harus mendapatkan manfaat dari perkembangan teknologi.
Karena itu, solusi yang mampu berjalan dengan perangkat sederhana dan koneksi terbatas akan menjadi semakin penting.
Data pendidikan dan kesehatan termasuk informasi yang sensitif.
Ketika semakin banyak sistem menggunakan AI dan perangkat yang terhubung ke internet, risiko kebocoran data dan penyalahgunaan informasi juga harus menjadi perhatian utama.
Pengembang teknologi dan penyedia layanan perlu memastikan adanya pengamanan yang memadai, pengaturan akses yang jelas, serta penggunaan data yang transparan.
Teknologi yang bagus tidak akan memberikan hasil maksimal jika pengguna tidak memahami cara memanfaatkannya.
Guru perlu mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab dalam pendidikan. Tenaga kesehatan juga membutuhkan pemahaman mengenai batas kemampuan dan risiko teknologi AI.
AI dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi tidak selalu benar. Karena itu, kemampuan memeriksa, memverifikasi, dan menggunakan teknologi secara kritis menjadi semakin penting.
Tantangan terbesar Indonesia bukan hanya menciptakan AI yang paling canggih.
Teknologi yang dibutuhkan masyarakat adalah teknologi yang benar-benar bisa digunakan.
Artinya, solusi harus mempertimbangkan bahasa Indonesia, kebutuhan daerah, harga perangkat, kualitas koneksi internet, serta kemampuan pengguna.
Inovasi seperti “Kisah Kita” dari MAN 3 Medan memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu harus dimulai dari perangkat mahal. Kombinasi perangkat IoT berbiaya rendah dengan teknologi AI dapat menghasilkan pendekatan baru untuk menyelesaikan masalah nyata.
Hal yang sama dapat diterapkan pada sektor kesehatan. Teknologi yang berhasil bukan hanya yang memiliki fitur paling banyak, tetapi yang mampu membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efektif tanpa mengorbankan keselamatan, privasi, dan kepercayaan pasien.
Dalam beberapa tahun ke depan, AI dan IoT kemungkinan akan semakin sulit dipisahkan dari layanan digital.
AI dapat menjadi lapisan yang membantu manusia memahami informasi, sementara IoT menjadi jaringan yang menghubungkan perangkat dan mengumpulkan data dari dunia nyata.
Di sekolah, teknologi dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif. Di sektor kesehatan, digitalisasi dapat membantu memperkuat integrasi layanan dan pemanfaatan informasi.
Namun, arah perkembangan teknologi ini harus tetap berpusat pada manusia.
Guru tetap menjadi pendidik. Dokter dan tenaga kesehatan tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap pelayanan medis. AI dan IoT seharusnya menjadi alat untuk memperluas kemampuan mereka, bukan alasan untuk menghilangkan peran manusia.
Bagi Indonesia, peluangnya sangat besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi AI dan IoT tidak hanya menjadi demonstrasi teknologi di kota besar, tetapi benar-benar berkembang menjadi solusi yang terjangkau, aman, dan bermanfaat bagi masyarakat di berbagai daerah.